Tampilkan postingan dengan label Cerita Umi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Umi. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Januari 2020

The Jungle of Knowledge (1)

Pekan pertama menjelajah hutan ilmu pengetahuan rasanya WOW. Saya mencoba fokus dan berpegangan kuat pada peta yang telh disusun. 

Pekan pertama ini saya ingin memulai mencari referensi mengenai "Manfaat Bangun Dini Hari bagi Kesehatan Fisik dan Mental".


Senin, 06 Januari 2020

Siap BELAJAR

Materi ketiga kuliah Bunda Cekatan semakin WOW lagi. Setelah menyusun daftar kekuatan, lanjut menurunkannya dalam daftar keterampilan yang dibutuhkan, maka sekarang kita akan bersiap pada proses belajar. Menumbuhkan bibit unggul perlu keterampilan dan ilmu. Dan sekarang kita akan menyusun menu pembelajaran dalam meraih ilmu yang menunjang semakin meningkatnya kualitas kekuatan kita. 

Di materi ketiga ini, saya mulai menetapkan satu kekuatan yang akan saya tumbuhkan dengan sepenuh hati sebagai bibit unggul yang saya miliki. Kekuatan ini merupakan sumber kebahagiaan. Kebahagiaan yang berharap pada berkah Allah dan memberi manfaat pada semesta.

Senin, 23 Desember 2019

Asah KETERAMPILAN mu!

Materi kedua semakin menantang! Setelah materi pertama "Temukan Kekuatanmu", maka di materi kedua ini "Asah Keterampilanmu". Kita tidak hanya berhenti pada daftar kekuatan yang kita miliki. Namun, lalu bagaimana?



Kekuatan ini layaknya bibit unggul yang telah Allah titipkan dalam setiap jiwa manusia, termasuk diri saya. Seperti halnya bibit, maka perlu ada proses pemeliharaan sehingga bibit itu dapat tumbuh sesuai genetiknya. Bibit unggul tidak akan menjadi tanaman berkualitas unggul jika tidak diberi pupuk dan dirawat sesuai caranya.

Maka, di materi kedua ini kita kembali membuat daftar. Daftar kedua ini merupakan turunan dari daftar kekuatan yang telah disusun, yaitu daftar keterampilan. Keterampilan apa saja yang diperlukan dalam mendukung kekuatan tersebut, dan juga mengatasi hal-hal yang menghambat dalam proses menumbuhkan bibit kekuatan tersebut.




Minggu, 15 Desember 2019

BAHAGIA meraih BERKAH

BAHAGIA meraih BERKAH yang MEMBAHAGIAKAN

"Ayo, berangkat sekarang, biar ga ketauan!"
Segerombolan gadis remaja itu pun setengah berlari melewati lorong-lorong sempit untuk bisa menembus benteng pertahanan sekolah. Sampai di luar, mereka semua tertawa bersama menertawakan diri sendiri. Lalu berjalan bersama hingga tiba di warung baso. Masih berseragam lengkap, di jam pelajaran sekolah, mereka pun bahagia menikmati baso yang diidamkan. Dan kepuasan setelah berhasil melewati halang rintang untuk bisa lolos dari penjagaan sekolah.
Tidak sekali dilakukan, mereka selalu menemukan cara bahagia untuk membuat kenangan tak terlupakan di sekolah itu.
Kalau ditanya, apakah masa itu bahagia?
(Berseru di awal)
"Ya! Bahagia, Seru ..."
(menggantung di akhir)
Ada satu sisi yang membuat rasa bahagia itu tidak lengkap. Khawatir, cemas, takut? Mungkin saja, karena bagaimana pun itu melanggar aturan dan sadar bahwa itu salah.
Cukuplah masa itu untuk bermain-main. Saya mulai mencari rasa bahagia yang awet, tahan lama, tanpa cemas dan khawatir.
Bagaimanakah itu?
Bahagia yang penuh berkah. Artinya, bahagia yang bermanfaat, bahagia yang meningkatkan kadar iman, bahagia dengan nilai-nilai kebaikan. Karena fitrahnya manusia itu baik. Setiap manusia memiliki peran baiknya, kekuatan yang dititipkan oleh Sang Pencipta.
"Aku paham kekuatanku bukan untuk di sini." Kata seseorang yang setelah mengucap kalimat itu mulai menetapkan misi dan jalan hidupnya.
Kekuatan. Mulailah dengan memahami kekuatan diri untuk bahagia, meraih berkah yang membahagiakan.
.
(Review catatan NHW matrikulasi 2016)

Peta KEKUATAN

Kuliah Bunda Cekatan ini langsung mengingatkan saya pada NHW Matrikulasi yang saya ikuti di tahun 2016 lalu. Saya sudah membulatkan tekad misi hidup saya di jalan ini, dan alhamdulillah masih terus on-track, hanya perlu evaluasi. Misi hidup yang saya tuliskan ada pada link ini.

Pada kuliah pekan pertama ini, saya bersyukur karena diharuskan untuk mengulik kembali misi hidup yang telah saya tuliskan itu. Mengulik dengan memahami kembali peta kekuatan diri. Sehingga misi pribadi dan keluarga dapat berjalan beriringan, tumbuh dan berkembang bersama.

Dimulai dengan menuliskan aktivitas ke dalam 4 kuadran, seperti dalam gambar di bawah ini.






_________________________
Kuliah Bunda Cekatan pekan 1


Jumat, 01 Maret 2019

Dibalik Karya IMAJI IFA

KolaborasI PORTFOLIO, PROJECT BASED LEARNING, dan PANDU 45
dibalik karya IMAJI IFA






LATAR BELAKANG
Bulan Desember 2018 merupakan waktu target penyelesaian project buku IMAJI IFA bersama kakak Afifah. Di samping itu, ada desakan permintaan dari teman-teman IP di Gresik untuk mengadakan sharing tentang Pandu 45 (karena melihat saya telah mengikuti Workshop Pandu 45 di Jogja) sebelum kepindahan saya dan keluarga dari Kota Gresik.
Merasa minimnya pengetahuan di dunia minat bakat anak, maka permintaan teman-teman agak saya abaikan, karena memang sedang fokus finishing project buku Afifah sebelum akhir Desember.
Akhir tahun 2018, alhamdulillah project sudah selesai sesuai target dan buku IMAJI IFA sudah hadir di rumah kami. Meninjau kembali proses selama project ini berlangsung telah menyadarkan saya suatu hal. Betul saya masih minim dalam pengetahuan dunia minat bakat anak, namun saya dapat sedikit berbagi pengalaman selama mendampingi Afifah mengerjakan project tersebut. Karena di dalam project buku ini saya mendapat ragam insight learning yang tak terduga dan sangat berkaitan erat dengan dunia minat bakat anak. Di dalamnya tersirat cerita tentang manfaat jurnal portfolio, project, dan tentu saja sinkronisasi antara temuan dalam project dengan hasil belajar di Workshop PANDU 45.

Senin, 29 Januari 2018

Orientasi pada Proses, dan Kuatkan Target!




Terinspirasi dari diskusi peserta pertukaran pelajar di level tiga lalu. Sang peserta mengisahkan bagaimana ia dapat terus konsisten mendapat badge OP meski saat mengerjakan tantangan di level dua sempat jatuh sakit. 

Kebanyakan dari kita, khususnya saya pribadi, masih sering memberikan ruang toleransi yang tidak semestinya saat ada musibah atau halangan. "Ah hujan, ga jadi berangkat kuliah", "Ga ada motor, ga jadi berangkat ngaji", lagi batuk pilek, baiknya banyak istirahat sampai memangkas jam belajar, dan sebagainya. 

Begitu mudahnya kita menjadikan kejadian tak biasa itu sebagai alat untuk mengendurkan semangat kita dalam berkebaikan. Kecenderungan untuk melemahkan diri dan menganggap diri tidak mampu menghadapi masalah, hal tersebut yang masih sering menjadi penyakit dalam diri kita. 

"Kita mesti membayar resiko dari besaran toleransi yang kita berikan bagi diri sendiri."

Kurangnya rasa berjuang untuk meraih sesuatu. Hal ini sangat berkebalikan dengan prinsip profesionalisme, yakni bersungguh-sungguh. Sering memberikan toleransi atau kelonggaran kepada diri sendiri, jelas resikonya akan lebih lamban dalam mencapai target yang dicita-citakan. 

Kesadaran ini kembali muncul saat membaca istilah "memvisualkan tujuan akhir" dalam jawaban peserta saat diberikan pertanyaan bagaimana tips untuk tetap konsisten. Visualisasi tujuan akhir sangat tergantung pada karakteristik setiap individu. Misalnya yang telah dilakukan peserta tersebut. Ia memvisualisasikan target dari tantangan di setiap level dengan badge OP. Badge OP dijadikan sebagai pecut bagi dirinya untuk menyelesaikan tantangan dengan profesional, bersungguh-sungguh. 

Sebagian kita mungkin sering mengkiaskan bahwa perolehan badge hanya bonus semu semata, "Tidak dapat badge tidak apa-apa, yang penting proses menjalankan tantangannya."

Memang betul sekali orientasi kita pada prosesnya, yang terpenting adalah pada proses. Namun untuk menjaga ghirah perjuangan, goal atau tujuan juga harus digenggam erat. Karena bagaimanapun, proses akan berjalan setelah ada tujuan. Jika tujuan tidak dipertahankan atau diperjuangkan, maka itu jelas akan berdampak pada prosesnya. 


Ditulis oleh :
Widitra Maulida
Fasil Bunsay #3



Minggu, 10 Desember 2017

Perjalanan Berkompetisi : FOR HER TANGKIS

Perjalanan Berkompetisi
 (30 Besar FOR HER TANGKIS Community Competition)

oleh : Wita Maulida / Ketua Rumah Belajar Playdate Gresik IIP



            Perjalanan ini menjadi pengalaman perdana Rumah Belajar (Rumbel) Playdate Gresik ‘mengacungkan jari telunjuknya’ untuk ikut serta dalam sebuah kompetisi. Kata ‘mengacungkan’ dalam kalimat sebelumnya tidak sepenuhnya benar, karena bagaimanapun ada banyak ‘tangan’ yang kuat mendorong sehingga kami pun akhirnya memberanikan diri dalam momen kompetisi ini.
   Tujuh jam menjelang masa pendaftaran ditutup, kami mendapat provokasi dari ibu ketua IIP Nasional. Beliau mengirim satu paragraf singkat yang memacu kami untuk segera bertindak. Satu pertanyaan besar dalam benak kami waktu itu adalah “Kegiatan apa yang sudah kami lakukan dan sesuai dengan tema kompetisi, yaitu TANGKIS : cegah kekerasan seksual pada anak, anti-bullying atau internet sehat?”
    Tangkis oh Tangkis, dimanakah gerangan dirimu terselip dalam agenda playdate kami selama ini?

Rabu, 06 Desember 2017

Delegating : Jangan SOK Jadi Pahlawan

KOMUNITAS PROFESIONAL (Bag-2)


Delegating : Jangan SOK Jadi Pahlawan
           
            Kembali belajar berkomunitas membuat pikiran ini sering memutar ulang memori saat dulu mengawali perjalanan berorganisasi. Tepatnya saat duduk di bangku kelas 2 SMP dan diri ini mendapat suara terbanyak untuk menjadi ketua kelas. Apa yang ada di benak ‘anak baru gede’ itu tentang jabatan ketua kelas?
  • ·    Merasa disenangi semua teman dan harus menyenangkan semua teman
  • ·    Menyelesaikan setiap permasalahan kelas
  • ·    Selalu siap menjadi perwakilan kelas

            Setidaknya 3 hal tersebut yang dipahami ‘gadis cilik’ itu saat terpilih menjadi ketua kelas. Dan selama masa jabatan, lebih dari 3 kali saya mendapat teguran “Jangan SOK jadi pahlawan!” Sepertinya tak perlu saya ceritakan di sini detail permasalahannya, karena akar semua masalahnya sama yaitu saya bisa mengerjakan itu sendiri dan ingin cepat selesai.
     
    Namun ada satu permasalahan yang saya temukan ditengah masa jabatan itu dan ‘ndilalahnya’ hal itu tidak dapat saya kerjakan sendiri. Apakah itu? Satu semester sudah terlewati tapi sekretaris belum juga membuat papan organigram dan jadwal piket. Sekilas sederhana, dan sebenarnya bisa saya tuliskan dalam selembar karton besar lalu ditempelkan di dinding kelas. Akan tetapi, permasalahannya tak sesederhana itu. Kedua papan itu menjadi simbol ‘ke-keren-an’ dan tingkat kreativitas pengurus kelas (kala itu). Saya pun bingung bagaimana caranya menegur sang sekretaris tersebut.

Jumat, 01 Desember 2017

Jurnal Fasilitator (1)


3 Langkah Mengusir Kecemasan Memasuki Kelas Perdana

Alhamdulillah, materi perdana sudah melalui garis finishnya. Dan benar saja, sesuai harapan saya saat kemarin mendaftarkan diri menjadi fasilitator, yaitu saya kembali belajar dan diingatkan kembali dengan materi dan segala teori di kelas Bunda Sayang ini. Bagi saya, materi Komunikasi Produktif ini merupakan pondasi untuk materi-materi pengasuhan selanjutnya.
Komunikasi menjadi kunci utama dalam pengasuhan anak. Karena pada hakikatnya pengasuhan merupakan strategi menyampaikan kebenaran kepada anak. Sehingga sehebat apapun gaya pengasuhan orang tua, semuanya kembali kepada pola komunikasi antara orang tua dan anak.

Jumat, 24 November 2017

Bye Bye Super Hero

KOMUNITAS PROFESIONAL (Bag-1)

Bye Bye Super Hero

“Kita tidak akan pernah dapat memuaskan keinginan setiap orang.
Terus saja berjalan.”
           
            Satu pesan yang saya dapatkan dari seorang teman ini cukup mengingatkan bagaimana dulu saya berorganisasi, dan ini cukup membuat saya menertawakan diri sendiri. Pengalaman atau lebih tepatnya hobi berorganisasi sudah saya mulai sejak duduk di bangku kelas 2 SMP. Saya menjadi ketua kelas dan menjadi perwakilan kelas dalam organisasi sekolah. Kala itu, saya memiliki anggapan bahwa untuk menjadi orang yang bermanfaat (sebut saja populer) harus pandai bergaul dengan semua teman, lalu saya menyederhankannya dengan istilah “menyenangkan” semua pihak.

            Saya ingat betul dengan pengalaman pertama saya menjadi decision maker. Guru Biologi memberi tugas kepada sang ketua kelas unuk membuat kelompok belajar dengan menyebar “orang pintar” di kelas ke dalam semua kelompok. Pesan itu saya telan mentah begitu saja dan tertulis dalam pikiran bahwa saya harus mengerjakan tugas itu sendiri.

Rabu, 22 November 2017

Seandainya Saya Menjadi Fasilitator

Seandainya Saya Menjadi Fasilitator
            
     Ada satu tantangan dari suami yang akan saya buktikan seandainya saya menjadi fasilitator. Tantangan yang sudah cukup lama ditargetkan, namun belum juga terealisasi dengan apik. Tantangan ini sangat sering digaungkan oleh ibu guru kita tercinta, namun saya masih sering kepayahan juga jatuh bangun mengelolanya. Berangkat dari kepayahan tersebut saya mulai mencari formula bagi suksesnya tantangan ini.

         Saya mulai meraba formula ini. Ada satu kesamaan jika saya lihat dari sisi pengguna formula ini. Formula ini terdiri dari dua aspek berbeda, namun begitu bersinergi dan berjalan seiringan dengan indikasi suksesnya tantangan yang harus saya taklukkan ini.

        Manajemen waktu dan peran dalam berkomunitas. Itulah yang saya maksud dengan dua hal saling bersinergi dan berjalan seiringan saling mendukung, tantangan dan formulanya. Saat kita berani mengambil peran lebih maka kita akan tertuntut untuk mengemas dan mengelola waktu 24 jam dengan baik dan terukur.

Sabtu, 17 Desember 2016

JUST DO IT, SOON!

BUNDA sebagai AGEN PERUBAHAN
Matrikulasi IIP batch #2 sesi 9

Bunda, kalau sudah menemukan passion (ketertarikan minat ) ada di ranah mana, mulailah lihat isu sosial di sekitar anda, maka belajar untuk membuat solusi terbaik di keluarga dan masyarakat.
Rumus yang kita pakai :
PASSION + EMPHATY = SOCIAL VENTURE
Social venture adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social enterpreneur baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan.
Sedangkan social enterpreneur adalah orang yg menyelesaikan isu sosial di sekitarnya menggunakan kemampuan enterpreneur.
Sehingga bunda bisa membuat perubahan di masyarakat diawali dari rasa emphaty, membuat sebuah usaha yang berkelanjutan diawali dengan menemukan passion dan menjadi orang yang merdeka menentukan nasib hidupnya sendiri.

Jumat, 09 Desember 2016

PENGAWAL MISI HIDUP

MISI SPESIFIK HIDUP DAN PRODUKTIVITAS
Matrikulasi Ibu Profesional batch #2 sesi 8

Bunda, perjalanan kita untuk menemukan misi hidup selaras dengan perjalanan produktivitas hidup kita. Maka materi menemukan misi hidup ini, akan menjadi materi pokok di kelas bunda produktif.
Sebelumnya kita sudah memahami bahwa “Rejeki itu pasti, Kemuliaan yang harus dicari”. Sehingga produktivitas hidup kita ini tidak akan selalu diukur dengan berapa rupiah yang akan kita terima , melainkan seberapa meningkat kemuliaan hidup kita dimata Allah dan seberapa manfaat hidup kita bagi alam semesta.

“Be Professional, Rejeki will Follow”
Tagline Ibu Profesional di atas menjadi semakin mudah dipahami ketika kita masuk ranah produktif ini. “Be Professional” diartikan sebagai bersungguh-sungguh menjalankan peran. Kesungguhan dan keistiqomahan seseorang dalam menjalankan peran hidupnya akan meningkatkan kemuliaan dirinya di mata Allah dan kebermanfaatan untuk sesama.
“Rejeki will follow” bisa dimaknai bahwa rejeki setiap orang itu sudah pasti, yang membedakan adalah nilai kemanfaatan dan keberkahannya seiring dengan bersungguh-sungguh tidaknya seseorang menjalankan apa yang dia BISA dan SUKA.

Jumat, 02 Desember 2016

Talents Mapping Abah Rama

REJEKI ITU PASTI, KEMULIAAN HARUS DICARI
Matrikulasi Ibu Profesional sesi #7

Alhamdulillah setelah melewati dua tahapan “Bunda Sayang” dan “Bunda Cekatan” dalam proses pemantasan diri seorang ibu dalam memegang amanah-Nya, kini sampailah kita pada tahapan “Bunda Produktif”.
Bunda Produktif adalah bunda yang senantiasa menjalani proses untuk menemukan dirinya, menemukan “MISI PENCIPTAAN” dirinya di muka bumi ini, dengan cara menjalankan aktivitas yang membuat matanya “BERBINAR-BINAR”
Sehingga muncul semangat yang luar biasa dalam menjalani hidup ini bersama keluarga dan sang buah hati. Para Ibu di kelas Bunda Produktif memaknai semua aktivitas sebagai sebuah proses ikhtiar menjemput rejeki.
Mungkin kita tidak tahu dimana rejeki kita, tapi rejeki akan tahu dimana kita berada.
Sang Maha Memberi Rejeki sedang memerintahkannya untuk menuju diri kita
Allah berjanji menjamin rejeki kita, maka melalaikan ketaatan pada-Nya, mengorbankan amanah-Nya, demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijaminnya adalah kekeliruan besar.

Sabtu, 26 November 2016

Rutin atau Dinamis ?

IBU MANAJER KELUARGA HANDAL
Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #6

Motivasi Bekerja Ibu
Ibu rumah tangga adalah sebutan yang biasa kita dengar untuk ibu yang bekerja di ranah domestik. Sedangkan Ibu Bekerja adalah sebutan untuk ibu yang bekerja di ranah publik. Maka melihat definisi di atas, sejatinya semua ibu adalah *_ibu bekerja_* yang wajib professional menjalankan aktivitas di kedua ranah tersebut, baik domestik maupun publik.
Apapun ranah bekerja yang ibu pilih, memerlukan satu syarat yang sama, yaitu
kita harus “SELESAI” dengan management rumah tangga kita

Kita harus merasakan rumah kita itu lebih nyaman dibandingkan aktivitas dimanapun. Sehingga anda yang memilih sebagai ibu yang bekerja di ranah domestik, akan lebih professional mengerjakan pekerjaan di rumah bersama anak-anak. Anda yang Ibu Bekerja di ranah publik, tidak akan menjadikan bekerja di publik itu sebagai pelarian ketidakmampuan kita di ranah domestik.
Mari kita tanyakan pada diri sendiri, apakah motivasi kita bekerja ?
🍀Apakah masih *ASAL KERJA*, menggugurkan kewajiban saja?
🍀Apakah didasari sebuah *KOMPETISI* sehingga selalu ingin bersaing dengan orang/ keluarga lain?
🍀Apakah karena *PANGGILAN HATI* sehingga anda merasa ini bagian dari peran anda sebagai Khalifah?

Jumat, 18 November 2016

Gaya Belajar Gue Banget!

BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR
Materi Matrikulasi IIP batch #2 sesi #5

Bunda dan calon bunda yang selalu semangat belajar, 
Bagaimana sudah makin mantap dengan jurusan ilmu yang dipilih? kalau sudah, sekarang mari kita belajar bagaimana caranya belajar. Hal ini akan sangat bermanfaat untuk lebih membumikan kurikulum yang teman-teman buat. Sehingga ketika teman-teman membuat kurikulum unik (customized curriculum) untuk anak-anak, makin bisa menerjemahkan secara setahap demi setahap karena kita sudah melakukannya. Inilah tujuan kita belajar.

Sebagaimana yang sudah kita pelajari di materi sebelumnya, bahwa semua manusia memiliki fitrah belajar sejak lahir. Tetapi mengapa sekarang ada orang  yg senang belajar dan ada yang tidak suka belajar. 
Suatu pelajaran yang menurut kita berat jika dilakukan dengan senang hati maka pelajaran  yang berat itu akan terasa ringan, dan sebaliknya pelajaran yang ringan atau mudah jika dilakukan dengan terpaksa maka akan terasa berat atau sulit.
Jadi suka atau tidaknya kita pada suatu pelajaran itu bukan bergantung pada berat atau ringannya suatu pelajaran. Lebih kepada rasa. 

Membuat BISA itu mudah, tapi membuatnya SUKA itu baru tantangan

Sabtu, 12 November 2016

Mission Begins

MENDIDIK DENGAN KEKUATAN FITRAH
PROGRAM MATRIKULASI IBU PROFESIONAL SESI #4


Bunda, setelah kita memamahi bahwa salah satu alasan kita melahirkan generasi adalah untuk membangun kembali peradaban dari dalam rumah kita, maka semakin jelas di depan mata kita, ilmu-ilmu apa saja yang perlu kita kuasai seiring dengan misi hidup kita di muka bumi ini. Minimal sekarang anda akan memiliki prioritas ilmu-ilmu apa saja yang harus anda kuasai di tahap awal, dan segera jalankan, setelah itu tambah ilmu baru lagi. Bukan saya, sebagai teman belajar anda di IIP selama ini, maupun para ahli parenting lain yang akan menentukan tahapan ilmu yang harus anda kuasai, melainkan DIRI ANDA SENDIRI

Apakah mudah? TIDAK.  Tapi yakinlah bahwa kita bisa membuatnya menyenangkan. Jadilah diri anda sendiri, jangan hiraukan pendapat orang lain. Jangan silau terhadap kesuksesan orang lain. Mereka semua selalu berjalan dari KM 0, maka mulai tentukan KM 0 perjalanan anda tanpa rasa “galau”.
Inilah sumber kegalauan diri kita menjalankan hidup, kita tidak berusaha memahami terlebih dahulu apa“misi hidup” kita sebagai individu dan apa “misi keluarga” kita sebagai sebuah komunitas terkecil. Sehingga semua ilmu kita pelajari dengan membabi buta dan  tidak ada yang dipraktekkan sama sekali. Semua seminar dan majelis ilmu offline maupun online kita ikuti, karena kekhawatiran tingkat tinggi akan ketertinggalan ilmu kekinian, tapi tidak ada satupun yang membekas menjadi jejak sejarah perjalanan hidup anda.

Sabtu, 05 November 2016

Peradaban dimulai dari Rumah kami

MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH
Materi Matrikulasi Institut Ibu Profesional Sesi #3

“Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya
 menuju peran peradabannya”

Bunda, rumah kita adalah pondasi sebuah bangunan peradaban, dimana kita berdua bersama suami, diberi amanah sebagai pembangun peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Memberi Amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan sungguh-sungguh.
Maka tugas utama kita sebagai pembangun  peradaban adalah mendidik anak-anak sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita.
Sang Maha Pencipta menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan “misi spesifiknya”, tugas kita memahami kehendakNya.
Kemudian ketika kita dipertemukan dengan pasangan hidup kita untuk membentuk sebuah keluarga, tidak hanya sekedar untuk melanjutkan keturunan, atau hanya sekedar untuk menyempurnakan agama kita. Lebih dari itu, kita bertemu dengan suami dan melahirkan anak-anak, adalah untuk lebih memahami apa sebenarnya “peran spesifik keluarga” kita di muka bumi ini.
Hal ini yang kadang kita lupakan, meski sudah bertahun-tahun menikah.

Darimana kita harus memulainya?

Jumat, 28 Oktober 2016

10 TO DO LIST – LANGKAH AWAL PERUBAHAN

MENJADI IBU PROFESIONAL, KEBANGGAAN KELUARGA
Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #2

Apa kabar bunda dan calon bunda peserta matrikulasi IIP batch #2? Pekan ini kita akan belajar bersama
a. Apa Itu Ibu Profesional?
b. Apa itu Komunitas Ibu Profesional?
c. Bagaimana tahapan-tahapan untuk menjadi Ibu Profesional?
d. Apa saja indikator keberhasilan seorang Ibu Profesional?

APA ITU IBU PROFESIONAL?
Kita mulai dulu dengan mengenal kata IBU ya. Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia Ibu itu memiliki makna :
·         perempuan yang telah melahirkan seseorang
·         sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami
·         panggilan yang takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum
·         bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya)
·         yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting: -- negeri; -- kota;

Sabtu, 22 Oktober 2016

ADAB MENUNTUT ILMU




ADAB MENUNTUT ILMU
Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #1
Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.

Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.

Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya

Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.