Jumat, 01 Maret 2019

Dibalik Karya IMAJI IFA

KolaborasI PORTFOLIO, PROJECT BASED LEARNING, dan PANDU 45
dibalik karya IMAJI IFA






LATAR BELAKANG
Bulan Desember 2018 merupakan waktu target penyelesaian project buku IMAJI IFA bersama kakak Afifah. Di samping itu, ada desakan permintaan dari teman-teman IP di Gresik untuk mengadakan sharing tentang Pandu 45 (karena melihat saya telah mengikuti Workshop Pandu 45 di Jogja) sebelum kepindahan saya dan keluarga dari Kota Gresik.
Merasa minimnya pengetahuan di dunia minat bakat anak, maka permintaan teman-teman agak saya abaikan, karena memang sedang fokus finishing project buku Afifah sebelum akhir Desember.
Akhir tahun 2018, alhamdulillah project sudah selesai sesuai target dan buku IMAJI IFA sudah hadir di rumah kami. Meninjau kembali proses selama project ini berlangsung telah menyadarkan saya suatu hal. Betul saya masih minim dalam pengetahuan dunia minat bakat anak, namun saya dapat sedikit berbagi pengalaman selama mendampingi Afifah mengerjakan project tersebut. Karena di dalam project buku ini saya mendapat ragam insight learning yang tak terduga dan sangat berkaitan erat dengan dunia minat bakat anak. Di dalamnya tersirat cerita tentang manfaat jurnal portfolio, project, dan tentu saja sinkronisasi antara temuan dalam project dengan hasil belajar di Workshop PANDU 45.

Rabu, 31 Januari 2018

Eyang Udeg-udeg Ronodirdjo

Pohon Keluarga yang Tak Bercabang Besar




Awalnya saya membayangkan jika terus menelusur silsilah ke atas setelah kakek-nenek maka pohon silsilah itu akan terus melebar dan membesar. 

Mungkin memang seperti itu lazimnya. Tapi ternyata ada 'keunikan' yang saya temukan saat mendapatkan silsilah Eyang Udeg-udeg saya dari pihak Eyang Haiban Hajid. 

Mari kita simak teliti silsilah berikut ini. Silsilah yang disimpan oleh Paklik sy, hasil tulisan tangan dari Eyang Haiban Hajid. 
Fakta yang ditemukan yaitu adanya tradisi pernikahan persepupuan. Ada 5 pasangan, antara lain :
1. Eyang Haiban Hajid dengan Eyang Djamharoh
2. Eyang Buyut Hajid dengan Eyang Buyut Wasilah
3. Eyang Buyut Dariyah dengan Eyang Buyut Djalaludin
4. Eyang Canggah Djilani dengan Eyang Canggah Muhsinah
5. Eyang Canggah Fatimah dengan Eyang Canggah Ahyat

Dan siapakah beliau Ronodirdjo 1?
Mari kita simak lagi bagan berikut ini.


Sampai di sini, saya belum menelusuri siapakah gerangan beliau. 






Senin, 29 Januari 2018

Orientasi pada Proses, dan Kuatkan Target!




Terinspirasi dari diskusi peserta pertukaran pelajar di level tiga lalu. Sang peserta mengisahkan bagaimana ia dapat terus konsisten mendapat badge OP meski saat mengerjakan tantangan di level dua sempat jatuh sakit. 

Kebanyakan dari kita, khususnya saya pribadi, masih sering memberikan ruang toleransi yang tidak semestinya saat ada musibah atau halangan. "Ah hujan, ga jadi berangkat kuliah", "Ga ada motor, ga jadi berangkat ngaji", lagi batuk pilek, baiknya banyak istirahat sampai memangkas jam belajar, dan sebagainya. 

Begitu mudahnya kita menjadikan kejadian tak biasa itu sebagai alat untuk mengendurkan semangat kita dalam berkebaikan. Kecenderungan untuk melemahkan diri dan menganggap diri tidak mampu menghadapi masalah, hal tersebut yang masih sering menjadi penyakit dalam diri kita. 

"Kita mesti membayar resiko dari besaran toleransi yang kita berikan bagi diri sendiri."

Kurangnya rasa berjuang untuk meraih sesuatu. Hal ini sangat berkebalikan dengan prinsip profesionalisme, yakni bersungguh-sungguh. Sering memberikan toleransi atau kelonggaran kepada diri sendiri, jelas resikonya akan lebih lamban dalam mencapai target yang dicita-citakan. 

Kesadaran ini kembali muncul saat membaca istilah "memvisualkan tujuan akhir" dalam jawaban peserta saat diberikan pertanyaan bagaimana tips untuk tetap konsisten. Visualisasi tujuan akhir sangat tergantung pada karakteristik setiap individu. Misalnya yang telah dilakukan peserta tersebut. Ia memvisualisasikan target dari tantangan di setiap level dengan badge OP. Badge OP dijadikan sebagai pecut bagi dirinya untuk menyelesaikan tantangan dengan profesional, bersungguh-sungguh. 

Sebagian kita mungkin sering mengkiaskan bahwa perolehan badge hanya bonus semu semata, "Tidak dapat badge tidak apa-apa, yang penting proses menjalankan tantangannya."

Memang betul sekali orientasi kita pada prosesnya, yang terpenting adalah pada proses. Namun untuk menjaga ghirah perjuangan, goal atau tujuan juga harus digenggam erat. Karena bagaimanapun, proses akan berjalan setelah ada tujuan. Jika tujuan tidak dipertahankan atau diperjuangkan, maka itu jelas akan berdampak pada prosesnya. 


Ditulis oleh :
Widitra Maulida
Fasil Bunsay #3