Jumat, 30 Desember 2016

Belajar Cara Belajar

Belakangan saya baru sadar, semangat belajar dalam diri saya itu diturunkan dari beliau (meskipun kadarnya mungkin masih ketinggalan jauh).
Beliau yg tak perlu keberatan menyandang berbagai macam gelar title, namun apa yg disampaikannya sejajar dgn para profesor.
Beliau yg selalu sangat berhati-hati dalam berpendapat, karena beliau mengedepankan tabayyun.
Tabayyun inilah yg membuat beliau selalu merasa haus akan ilmu dan belajar.
(cuplikan materi Matrikulasi IIP batch 2)
ADAB sebelum ILMU
Belajar ilmu itu mempunyai 3 tingkatan:
1⃣ Barangsiapa yang sampai ke tingkatan pertama, dia akan menjadi seorang yang sombong
Yaitu mereka yang katanya telah mengetahui segala sesuatu, merasa angkuh akan ilmu yang dimiliki. Tak mau menerima nasehat orang lain karena dia telah merasa lebih tinggi. Bahkan dia juga menganggap pendapat orang yang memberikan nasehat kepadanya, disalahkannya. Selalu mau menang sendiri, tidak mau mengalah meskipun pendapat orang lain itu benar dan pendapatnya yang salah. Terkadang mengatakan sudah berpengalaman karena usianya yang lebih lama namun sikapnya masih seperti kekanak-kanakan. Terkadang ada yang berpendidikan tinggi, namun tak mengerti akan ilmu yang dia miliki. Dia malah semakin menyombongkan diri, congkak di hadapan orang banyak. Merasa dia yang paling pintar dan ingin diakui kepintarannya oleh manusia. Hanya nafsu yang diutamakan sehingga emosi tak dapat dikendalikan maka ucapannyapun mengandung kekejian.
2⃣ Barangsiapa yang sampai ke tingkatan kedua, dia akan menjadi seorang yang tawadhu`
tingkatan yang membuat semua orang mencintanya karena pribadinya yang mulia meski telah banyak ilmu yang tersimpan di dalam dadanya, ia tetap merendah hati tiada meninggi. Semakin dia rendah hati, semakin tinggi derajat kemuliaan yang dia peroleh. Sesungguhnya karena ilmu yang banyak itulah yang mampu menjadikannya faham akan hakikat dirinya. Dia tak mudah merendahkan orang lain. Senantiasa santun dan ramah, bijaksana dalam menentukan keputusan suatu perkara. Dia dengan semuanya itu membuatnya semakin dicinta manusia dan insya Allah, Allah pun mencintainya.
3⃣ Barangsiapa yang sampai ke tingkatan ketiga, dia akan merasakan bahwa dia tidak tahu apa-apa
( _stay foolish, stay hungry_)
Tingkatan terakhir adalah yang teristimewa. Selalu merasa dirinya haus ilmu tetap tidak mengetahui apa-apa (stay foolish, stay hungry) meskipun ilmu yang dimilikinya telah memenuhi tiap ruang di dalam dadanya. Karena dia telah mengetahui hakikat ilmu dengan sempurna, semakin jelas di hadapan mata dan hatinya. Semakin banyak pintu dan jendela ilmu yang dibuka, semakin banyak didapati pintu dan jendela ilmu yang belum dibuka. Justru, dia bukan hanya tawadhu`, bahkan lebih mulia dari itu. Dia selalu merasakan tidak tahu apa-apa, mereka bisa tak berdaya di dalamnya lantaran terlalu luasnya ilmu.
Sampai dimanakah posisi kita? Hanya kita yang tahu.

KAMPOENG KIDZ, Batu, Jawa Timur

KAMPOENG KIDZ, Batu, Jawa Timur
Salah satu destinasi wisata edukasi bagi anak-anak di Kota Batu. Model edukasinya cukup meningkatkan "intelectual curiosity" anak. Setiap anak atau rombongan anak dipandu oleh seorang kakak pemandu. Dia ini yg aktif banget bertanya ke Ifa. Ifa yg awal dateng masih silent explorer ga butuh waktu lama untuk keluar ceriwis aslinya. Sampai akhirnya kakak pemandu yg kelabakan sendiri jawab pertanyaan Ifa.
Tema edukasi di Kampoeng Kidz ini "Entrepreneurship". Setelah registrasi, kakak pemandu akan jelasin aturan main di "educational land" ini. Ada uang mainan yg diberikan untuk nanti dipakai membeli tiket masuk wahana. Ifa bebas memilih wahana apa saja yg dia mau.
Tiket masuk : 150.000/anak untuk anak yg ikut paket edukasi.
Fasilitas : tas, buku, foto, bebas memilih wahana, voucher makan, dan (tentu saja) kakak pemandu.
Pengantar dikenakan tiket masuk : 20.000/orang.
Kali pertama kemarin, Ifa pilih 7 wahana :
Animal Farm : Pigeon, Rabbit, Pouitry
My Lovely Fish, Fish Brotherhood
Kitchen Garden : Jamur
Bakery & Choco Factory
Sedikit info tentang kakak pemandu. Mereka adalah pelajar SMA Selamat Pagi Indonesia. Latar belakang mereka tidak mampu ekonomi dan yatim piatu. Cukup oke untuk seusianya dalam menjalin "engagement" dengan jiwa belajar sang anak.

Belajar dari Si Salah

Belajar dari Si Salah
_____________________________________
Hari ini Kakak Ifa dan Adek Khalid ikut umi belajar. Di tengah sesi, kakak Ifa ikut main ke luar rumah dengan teman dan ibunya teman. Karena agak lama umi pun beranjak melihat ke luar rumah, kakak sedang di seberang jalan, tanpa alas kaki sambil memunguti bunga kamboja.
Jalanan dalam komplek ini memang relatif sepi, tapi pas itu ada motor akan melintas dan kakak Ifa justru lari menyeberang. Alhamdulillah bapak pengendara motor bisa menghindar.
Sampai lah Ifa berjarak 5m dr tempat sy berdiri. Ada yg sedang tak kuasa menahan emosi rupanya, dia "Si Salah" yg langsung mengomentari tentang kecerobohan kakak Ifa, tanpa melihat apa yg sedang dia bawa.
Sy melihat dia tiba2 menunduk, lalu sy kembali duduk mengikuti sesi belajar.
Tak dipungkiri, sudut mata ini menangkap kakak Ifa juga masuk rumah, lalu menghampiri Umi Anina dan menyerahkan beberapa kuntum bunga kamboja tadi, dan meletakkannya di piring.
Nyesssss rasanya..
Something wrong detected!
Kakak Ifa menghampiri umi, sambil menahan gejolak "nyess" tadi, umi tanya : mana kak bunga kamboja tadi?, harum ga?
Kepalany terangkat lalu bersemangat mengambil kembali bunga2 yg dia simpan di piring tadi.
Alhamdulillah, sy cium kepalanya, dalam hati "maafkan umi si salah ini ya nak"....
_________________________________________
Mengingat kembali teori "first, endapkan emosi". Menggunakan kacamata positif terlebih dahulu, setelah itu baru sampaikan apa kesalahannya.
Diingatkan kembali untuk menjadi "Orangtua adalah tempat kembali sang anak". Cerita di atas hanya level kecil. Level besarnya bisa dibayangkan ketika sang anak mencari "tempat kembali" yg lain, karena orangtua selalu melihat kesalahan si anak saja.
Oiya ada 1 pertanyaan yg selalu ditanya Abi ketika umi minta ijin akan pergi belajar bersama anak2 : apa di sana ada anak2 seusia kakak adek?.
Karena pastikan hak bermain anak tidak terenggut.